Bertemu Generasi Terakhir Suku Dayak Telinga Panjang di Desa Pampang

 



Telingaan Aruu atau tradisi memanjangkan telinga yang telah dilakukan turun temurun oleh suku Dayak. Bagi pria di suku Dayak, memanjangkan telinga adalah identitas kebangsawanan, sementara bagi wanita, memanjangkan telinga adalah simbol kecantikan. 




 

Hal itu tidaklah berlebihan. Sebab, Uwek Periaq yang usianya mungkin sudah lebih dari 80 tahun, hari itu hanya mengenakan baju kaos dan rok dibawah lutut. Ia menyembunyikan wajahnya di bawah tudung pandan, sebab matahari pukul 11 pagi sedang terik-teriknya. Pada lengannya terlihat motif hitam pudar, seperti tato. Segaris senyumnya terlihat manis, berbadu dengan parasnya yang putih bersih. 

 

Semula, saya tidak menduga bahwa perempuan paruh baya yang sibuk menata galang manik-manik berwarna warni di kios di depan rumah Lamin, desa Pampang, Kalimantan Timur itu adalah salah satu dari sedikit suku Dayak yang masih menjalankan tradisinya, memanjangkan telinga. 

 

Lamin Pemung Tawai adalah rumah adat suku Dayak yang terletak di desa Pampang, Kalimantan Timur. Sejak tahun 1991, Desa Pampang yang didiami oleh masyarakat Dayak Kenyah ditetapkan sebagai desa budaya. Sejak itu, Lamin Pemung Tawai menjadi salah satu destinasi wisayata budaya di Samarinda yang banyak di kunjungi. Setiap akhir pekan, Lamin Pemung Tawai menggelar berbagai kesenian tradisionil seperti tari-tarian ataupun upacara. 

 

Dengan Uweq Periaq, saya sempat berbincang sebentar tentang gelang manik-manik, ikat kepala tenun dan minyak urut yang dijual di kios kecilnya. Katanya, semua itu dibuat oleh gadis-gadis di desa Pampang. Ada juga potongan kayu yang biasanya dijadikan jimat atau untuk menjaga keselamatan. “Taruh saja di dalam dompet, biar selamat,” demikian penjelasan Uweq Periaq. 

 

Tak kuat lama saya berbincang menemani Uweq menata barang dagangannya, saya kemudian berlari ke arah Lamin. Uweq yang menyuruh saya melihat saya beberapa kali menyentuh kepala karena kepanasan. “Pergi ke sana berlindung,” ujarnya sambil menunjuk ke arah rumah panggung yang panjangnya mungkin sekitar 20 meter. 

 

Di rumah Lamin, saya bertemu laki-laki yang umurnya tidak lebih muda dari Uwek Periaq. Bila Uwek mengenakan baju kaos, laki-laki ini mengenai pakaian khas suku Dayak, dengan berbagai aksesoris dari tulang hewan memperkaya penampilannya. 



Saya berkenalan, ia menyebut namanya Pui Pajang. Belakangan saya tahu, beliau juga salah satu tokoh suku Dayak, penjaga tradisi telingaan Aruu. Sempat disuruh berfoto oleh beliau, tapi mungkin karena hari itu saya agak pusing, saya lebih memilih duduk-duduk saja di dekat Pui Pajang sambil memperhatian Pui yang sedang merapikan pernak-perniknya. 

 

Seperti biasa, saya membuka percakapan rigan dengan Pui Pajang. Berawal dari bertanya tentang kegiatan-kegiatan budaya di Desa Pampang, hingga akhirnya mengalirlah cerita tentang Suku Dayak Kenyah di Desa Pampang. 



Agama dan Hidup Selaras dengan Alam

 

Sejatinya, suku Dayak adalah penganut animisme dan dinamisme. Beberapa suku menyebutnya Kaharingan. Kepercayaan turun temurun ini meyakini bahwa alam sekitar dipenuhi makhluk-makhluk halus dan roh-roh yang tinggal di setiap benda, seperti pohon, sungai, dan batu. Mereka percaya, roh nenek moyang akan menjaga mereka dari gangguan makhluk-makhluk halus yang jahat. 

 

Burung Enggang misalnya, suku Dayak percaya burung ini adalah penghubung antara alam dan manusia. Burung Enggang membawa pesan-pesan alam yang berhubungan dengan roh nenek moyang dan diyakini menjadi wahana bagi roh yang telah meninggal untuk mencapai surga. Sederhananya, suku Dayak adalah masyarakat yang hidup selaras dengan alam. Dari penuturan Pui Pajang, saya simpulkan, bagi mereka alam adalah segalanya. Suku Dayak adalah salah satu kelompok yang berpegang pada keyakinan keselamatan uman manusia tergantung dari bagaimana kita menjaga alam.

 

Sebagaimana dituturkan Pui Pajang siang hari itu, peristiwa G30 S PKI mengakibatkan perubahan yang cukup significant pada kehidupan sosial suku Dayak pada umumnya, termasuk Dayak Kenyah di desa Pampang. Ketakutan akan tuduhan PKI apabila tidak memiliki agama yang diakui negara saat itu. Akhirnya suku Dayak memeluk Kristen. 

 

Walau demikian, dikatakan Pui Pajang, suku Dayak Kenyah tetap menjalankan tradisinya. Memeluk agama Kristen bukan berarti membuat mereka meninggalkan tradisi nenek leluhurnya. Nilai-nilai kepercayaan terhadap alam dan seluruh fenonemanya tetap menjadi pertanda ibarat Kompas penunjuk arah bagi masyarakat Dayak .

 

Kini, tak jauh dari Lamin Pemung Tawai, berdiri sebuah gereja yang terbuat dari kayu ulin bertabur ukiran. Gereja Katolik ini mulai dibangun pada 2020 dengan biaya yang tidak sedikit. Pembangunan gereja ini di inisiasi oleh Pastor Petrus Prillion Ibardabouth Binseng MSF. Ia mengumpulkan dana untuk pembangunan gereja dengan berbagai cara, termasuk sumbangan. Dikutip dari salah satu sumber pemberitaam, sekitar 30 persen biaya pembangunan berasal dari umat Katolik. Sementara itu, 70 persen yang lain merupakan donasi dari berbagai macam suku dan agama.

 

Maka tidak heran, rumah ibadah yang kemudian diberi nama Gereja Santo Gabriel ini dihiasi oleh ukiran daro berbagai suku di Indonesia. Ada pahatan khas Dayak Modang, Aoheng, Tunjung, Benuaq, Kenyah, dan Bahau. Tak hanya lokal, ada ukiran Bali, Papua, Jawa, Tionghoa, Batak, dan Toraja. Keragaman suku yang tergambar dari ukiran tersbeut menunjukkan sifat toleransi. Bagaimanapun, gereja ini dibangun lewat donasi dari beragam suku dan agama.

 

Di penghujung cerita, saya sempat bertanya mengenai penyebaran Islam di desa Pampang. Adakah masyarakat Dayak yang beragama Islam?

Jawaban Pui Pajang membuat saya cukup terperangah. “Ada satu masjid di sebalah sana, nah masjid tersebut adalah batas wilayah saudara-saudara yang Islam dengan yang Kristen. Kenapa begitu? Karena kami di sini pelihara babi dan anjing, sementara Islam tidak. Jadi kami di sini baik-baik saja, kami hidup berdampingan,” jelas Pui Pajang dengan tenang. 


Ah, sesederhana itu. Satu hal yang saya pelajari dari kunjungan singkat ini, bahwa sedamai ini bila kita menjalani hidup apa adanya. Hidup selaras dengan alam, hidup dengan membaca tanda-tanda alam. Mereka percaya apapun yang terjadi pada mereka, adalah sesuatu yang sudah digariskan alam. 


Memelihara anjing dan babi adalah bagian dari kehidupan leluhurnya, maka Kristen menjadi agama yang bisa mereka terima. Sementara, bila ada yang memutuskan memeluk Islam, yang perlu mereka lakukan hanya  menaati batas. Bukan karena tidak diterima atau diusir, tapi demi menghindari kontak dengan hewan yang diharamkan Islam. Apapun agama yang tertulis di KTP, yang mereka pahami adalah hidup selaras dengan alam. 

Komentar

Postingan Populer